Masihkah Kita Tidak Mau Bersyukur?
Allah memberi isi yang ada di langit dan dibumi tidak lain untuk
manusia, memberi tanah untuk ditanami pohon dan buahnya untuk manusia,
memberi air untuk diminum dan memberikan udara secara cuma cuma.
Bagaimana timbal balik kita? Sudahkah kita bersyukur? Kapan?
Setiap hari, jam, menit, hingga detik itulah waktu kita untuk
bersyukur. Lantas, bagaimana dengan kenyataan yang ada? Kita diberi uang
1 juta saja masih ingin 5 juta, setelah datang 5 juta masih ingin yang
lebih. Kalau berbicara nafsu memang tidak akan ada selesainya.
Tahukah anda?
Didalam tubuh kita dari atas kepala sampai paling ujung jempol kaki
terdapat 313 lebih sendi, yang seharusnya kita memberi nya makanan
rohani secara rutin, sebagai rasa syukur kita. Caranya dengan
melaksanakan shalat dhuha 2 rakaat. Dengan suplemen tersebut persedian
merasakan bahwa orang yang memakainya masih punya syukur kepada yang
menciptakanya, Allah SWT.
Itu semua juga kembali kepada diri kita sendiri, contoh satu fungsi
saja, fungsi persendian jemari yang ada pada telapak tangan kita merasa
ringan diajak untuk doa, mengadah setumpuk untuk meminta kepadaNya.
Padahal alam memberi kita pemandangan yang eskotik, hasil tanam yang
bermacam-macam dan beraturanya waktu untuk bergantian. Namun, kita
mengembalikanya dengan kotoran yang hina (kurang baik apa, apa ada
buatan manusia yang bisa seperti ini?)lalu kotoran itu diproses lagi
hingga kembali pada kita sesuatu yang baik lagi. Begitulah siklus
biologis, dan bagaimana dengan siklus kerohanian kita? Masihkah ada cela
didalam hati kita untuk bersyukur?
Jadi jika alam sudah tidak bersahabat dengan kita itu akibat dari ulah manusia itu sendiri.
Makna Sumpah Pemuda
Bagi seorang pemuda maupun generasi muda hari Sumpah Pemuda adalah momen bagi kita untuk lebih meningkatkan jiwa yang berkakarter kebangsaan, seperti cinta tanah air, disiplin, dan pantang menyerah seperti yang telah dicontohkan oleh para pemuda atau pejuang kita. Menilik apa yang terjadi di masa kini, mungkin cukup memperihatinkan, bagaimana hari Sumpah Pemuda hanya dijadikan sebagai perayaan belaka.
Tak ada aksi nyata dan ambisi baru yang membumbung tinggi demi mewujudkan pemuda Indonesia yang berkarakter. Yang ada justru krikis karakter yang semakin merajalela, dimana tawuran antar pelajar sudah menjadi tradisi, sex bebas di kalangan remaja semakin membara dimana-mana seperti, dan masih banyak lagi masalah kualitas pemuda yang ada di Indonesia.
Penulis jadi ingat apa yang pernah Bung Karno katakan, "Berikan aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia". Dengan begitu, dapat dikatakan pemuda adalah harapan bangsa, dan tulang punggung kemajuan bangsa ini. Jika pemuda rusak, maka hancurlah negara. Jika pemuda hebat, maka majulah bangsa Indonesia. Peran kita sebagai seorang pemuda sangat dibutuhkan untuk negeri kita tercinta.
Hal-hal yang bisa kita lakukan antara lain, rajin belajar, menjunjung tinggi rasa nasionalisme, berkarakter kuat dan disiplin. Dengan begitu, kita mampu memberikan sumbangsih untuk Indonesia, walaupun hanya sedikit. Sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali.
Sejarah dari Sumpah Pemuda telah membuktikkan banhwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki pemuda berkarakter, kuat, dan tangguh. Perjuangan kita sebagai generasi muda sekarang adalah melanjutkan perjuangan para pemuda terdahulu, agar Indonesia semakin maju dan hebat karena pemudanya.
Isi Sumpah Pemuda
1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Keajaiban Hujan
Hujan merupakan salah satu perkara terpenting bagi kehidupan di muka bumi. Ia merupakan sebuah prasyarat bagi kelanjutan aktivitas di suatu tempat. Hujan–yang memiliki peranan penting bagi semua makhluk hidup, termasuk manusia–disebutkan pada beberapa ayat dalam Al-Qur’an mengenai informasi penting tentang hujan, kadar dan pengaruh-pengaruhnya.
Informasi ini, yang tidak mungkin diketahui manusia di zamannya, menunjukkan kepada kita bahwa Al-Qur’an merupaka kalam Allah. Sekarang, mari kita kaji informasi-informasi tentang hujan yang termaktub di dalam Al-Qur’an.
Kadar Hujan
Di dalam ayat kesebelas Surat Az-Zukhruf, hujan dinyatakan sebagai air yang diturunkan dalam “ukuran tertentu”. Sebagaimana ayat di bawah ini:
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْدًا وَجَعَلَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (QS. Az-Zukhruf : 11)
“Kadar” yang disebutkan dalam ayat ini merupakan salah satu karakteristik hujan. Secara umum, jumlah hujan yang turun ke bumi selalu sama. Diperkirakan sebanyak 16 ton air di bumi menguap setiap detiknya. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi setiap detiknya. Hal ini menunjukkan bahwa hujan secara terus-menerus bersirkulasi dalam sebuah siklus seimbang menurut “ukuran” tertentu.
Pengukuran lain yang berkaitan dengan hujan adalah mengenai kecepatan turunya hujan. Ketinggian minimum awan adalah sekitar 12.000 meter. Ketika turun dari ketinggian ini, sebuah benda yang yang memiliki berat dan ukuran sebesar tetesan hujan akan terus melaju dan jatuh menimpa tanah dengan kecepatan 558km/jam. Tentunya, objek apapun yang jatuh dengan kecepatan tersebut akan mengakibatkan kerusakan. Dan apabila hujan turun dengan cara demikian, maka seluruh lahan tanaman akan hancur, pemukiman, perumahan, kendaraan akan mengalami kerusakan, dan orang-orang pun tidak dapat pergi keluar tanpa mengenakan alat perlindungan ekstra. Terlebih lagi, perhitungan ini dibuat untuk ketinggian 12.000 meter, faktanya terdapat awan yang memiliki ketinggian hanya sekitar 10.000 meter. Sebuah tetesan hujan yang jatuh pada ketinggian ini tentu saja akan jatuh pada kecepatan yang mampu merusak apa saja.
Namun tidak demikian terjadinya, dari ketinggian berapapun hujan itu turun, kecepatan rata-ratanya hanya sekitar 8-10 km/jam ketika mencapai tanah. Hal ini disebabkan karena bentuk tetesan hujan yang sangat istimewa. Keistimewaan bentuk tetesan hujan ini meningkatkan efek gesekan atmosfer dan mempertahankan kelajuan tetesan-tetesan hujan krtika mencapai “batas” kecepatan tertentu. (Saat ini, parasut dirancang dengan menggunakan teknik ini).
Tak sebatas itu saja “pengukuran” tentang hujan. Contoh lain misalnya, pada lapisan atmosferis tempat terjadinya hujan, temperatur bisa saja turun hingga 400oC di bawah nol. Meskipun demikian, tetesan-tetesan hujan tidak berubah menjadi partikel es. (Hal ini tentunya merupakan ancaman mematikan bagi semua makhluk hidup di muka bumi.) Alasan tidak membekunya tetesan-tetesan hujan tersebut adalah karena air yang terkandung dalam atmosfer merupakan air murni. Sebagaimana kita ketahui, bahwa air murni hampir tidak membeku pada temperatur yang sangat rendah sekalipun.
Pembentukan Hujan
Bagaimana hujan terbentuk tetap menjadi misteri bagi manusia dalam kurun waktu yang lama. Hanya setelah ditemukannya radar cuaca, barulah dapat dipahami tahapan-tahapan pembentukan hujan. Pembentukan hujan terjadi dalam tiga tahap. Pertama, “bahan mentah” hujan naik ke udara. Kemudian terkumpul menjadi awan. Akhirnya, tetesan-tetesan hujan pun muncul.
Tahapan-tahapan ini secara terperinci telah tertulis dalam Al-Qur’an berabad-abad tahun lalu sebelum informasi mengenai pembentukan hujan disampaikan:
اللَّهُ
الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي
السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ
يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ ۖ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ
عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ
“Allah, dialah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendakinya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal: lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambanya yang di kehendakinya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (QS. Ar-Rum : 48)
Sekarang, mari kita lihat pada tiga tahapan yang disebutkan dalam Al-Qur’an:
Tahap Pertama : “ Allah, dialah yang mengirimkan angin…..”
Gelembung-gelembung udara yang tidak terhitung jumlahnya dibentuk oleh buih-buih di lautan yang secara terus-menerus pecah dan mengakibatkan partikel-partikel air tersembur ke udara menuju ke langit. Partikel-partikel ini –yang kaya akan garam– kemudian terbawa angin dan bergeser ke atas menuju atmosfer. Partikel-partikel ini (disebut aerosol) membentuk awan dengan mengumpulkan uap air (yang naik dari lautan sebagai tetesan-tetesan oleh sebuah proses yang dikenal dengan “JebakanAir”) di sekelilingnya.
Tahap Kedua : “…..lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendakinya, dan menjadi bergumpal-gumpal…..”
Awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekitar kristal-kristal garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena tetesan-tetesan air di sini sangat kecil (dengan diameter antara 0,01-0,02 mm), awan mengapung di udara dan menyebar di angkasa. Sehingga langit tertutup oleh awan.
Tahap Ketiga : “….lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun.”
Partikel-partikel air yang mengelilingi kristal-kristal garam dan partikel-partikel debu mengental dan membentuk tetesan-tetesan hujan. Sehingga, tetesan-tetesan tersebut, yang menjadi lebih berat dari udara, meninggalkan awan dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.
Setiap tahap dalam pembentukan hujan disampaikan dalam Al-Qur’an. Terlebih lagi, tahapan-tahapan tersebut dijelaskan dalam runtutan yang benar. Seperti halnya fenomena alam lain di dunia, lagi-lagi Al-Qur’an lah yang memberikan informasi yang paling tepat tentang fenomena ini, selain itu, Al-Qur’an telah memberitahukan fakta-fakta ini kepada manusia berabad-abad sebelum sains sanggup mengungkapnya.
Keajaiban Lumba-Lumba
Temuan-temuan seorang ahli zologi telah memandu para insinyur yang membangun jaringan-jaringan rumit seperti World Wide Web dan jejaring kisi-kisi listrik ke arah baru: lumba-lumba.
David Lusseau dari Universitas Otago memelajari suatu kelompok yang terdiri atas 64 lumba-lumba hidung botol selama rentang masa tujuh tahun (David Lusseau, "The Emergent Properties of a Dolphin Social Network"). Ia menemukan di antara mereka adanya suatu tatanan sosial yang mirip dengan yang ada pada manusia dan jaringan buatan manusia. Telaah matematis Lusseau diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the Royal Society (Lusseau, 2003 The emergent properties of a dolphin social network. Proceedings of the Royal Society of London-
Series B (Supplement): DOI 10.1098/rsbl.2003.0057).
Banyak jaringan rumit, termasuk masyarakat manusia, memiliki ciri-ciri yang memungkinkan pertukaran cepat informasi di kalangan anggotanya.
Kajian oleh peneliti Selandia Baru ini menunjukkan bahwa masyarakat binatang juga tersusun sedemikian rupa sehingga memungkinkan penerusan informasi secara cepat dan efisien. Makhluk-makhluk berumur panjang seperti gorila, kijang, gajah, dan lumba-lumba hidung botol bergantung pada lingkungan mereka dalam penyampaian informasi.
Dalam pengamatan-pengamatannya, Lusseau memusatkan diri pada anggota-anggota kawanan yang lebih sering tampak bersama. Ia menyadari bahwa kelompok ini terdiri sebagian besar atas betina-betina dewasa, dan mereka berfungsi sebagai pusat-pusat penyampaian informasi bagi masyarakatnya.
Untuk mengukur aliran informasi dalam sebuah sistem, cukuplah dengan melihat pada titik-titik pusat yang dilalui aliran informasi itu dan menghitung jumlah unsur yang diperlukan dalam perjalanan itu dari titik pangkal hingga titik ujung. Lusseau menggunakan teknik pengukuran ini, yang disebut dengan “diameter”. Ketika hasil-hasil yang diperolehnya menggunakan cara ini dibandingkan dengan data yang diungkapkan oleh Internet, ia mendapati dirinya berhadapan dengan kenyataan yang menakjubkan.
Lamanya penyampaian informasi bertambah ketika sejumlah besar titik yang membentuk hubungan-hubungan pada Internet dibuang. Ketika hanya 2% simpul dengan kaitan terbanyak pada Internet dikeluarkan dari sistem, diperlukan dua kali jauhnya untuk berjalan dari satu unsur ke unsur lainnya. Akan tetapi, di kalangan lumba-lumba, keadaannya berbeda.
Lusseau memantau lumba-lumba menggunakan tanda-tanda pada sirip-sirip punggung dan mengamati bahwa ketika anggota-anggota yang bertindak sebagai pusat komunikasi meninggalkan kelompoknya, masyarakat lumba-lumba menunjukkan daya tahan yang besar. Kepaduan masyarakat lumba-lumba tidak terpengaruh oleh ketiadaan anggota-anggota kunci. Daya tahan ini memungkinkan masyarakat lumba-lumba tetap terus berada dalam keadaan sehat bahkan jika sepertiga anggotanya hilang.
Sang peneliti menyatakan bahwa berkat sistem ini, jaringan dapat tetap bertahan bahkan di hadapan bencana kematian. Lebih lagi, ia berpendapat bahwa sifat-sifat ini dapat diterapkan pada jaringan buatan manusia seperti World Wide Web.
Sebagaimana kita lihat, ada penataan pada lumba-lumba yang terlindung lebih baik daripada jaringan komunikasi yang membangun Internet dan berfungsi lebih ampuh pada saat simpul-simpul utama tercerabut. Adanya ciri seperti itu pada lumba-lumba berarti bahwa aneka syarat mesti diperhitungkan. Misalnya, beberapa tahap, seperti menghitung beban yang akan ditimpakan pada titik-titik hubungan dalam rangka menata Internet dan menaksir di awal bagaimana keseluruhan jaringan akan terpengaruh jika titik-titik itu tercerabut dari sistem, dilakukan oleh para insinyur jaringan dan ini membuat informasi berjalan dalam sistem seefisien mungkin. Keberadaan para insinyur yang menghitung dan menata aliran informasi pada Internet menunjukkan adanya kecerdasan unggul yang mengatur jaringan informasi pada lumba-lumba dan banyak mahluk hidup lain sejenisnya di alam. Tidak dapat diragukan bahwa kecerdasan unggul ini adalah Allah yang Mahatahu, Mahakuasa.
Penciptaan jaringan informasi pada lumba-lumba ini adalah perwujudan dari namaNya yang Maha Pengasih. Kasih Allah diwujudkan dalam jaringan informasi ini sebagaimana berikut:
Cara makhluk-makhluk hidup seperti lumba-lumba, yang tinggal dalam perairan terbuka dan dekat dengan permukaan, berperilaku sebagai satu kelompok amatlah penting. Gaya hidup ini memberikan keuntungan dalam hal bersiaga terhadap pemangsa, maupun ketika berburu.
Berkat arus informasi yang sinambung di kalangan betina-betina dewasa di dalam kelompok, anggota-anggota lain dipasok dengan informasi tentang kedudukan mangsa dan pemangsa, yang akibatnya kelompok ini dibantu dalam berperilaku secara padu. Jika aliran informasi pada lumba-lumba ini menjadi timpang karena kehilangan satu lumba-lumba yang diakibatkan oleh pemangsa, maka larinya lumba-lumba lain akan tidak berarti, dan anggota-anggota yang tak berpeluang berkomunikasi akan terpaksa menyebar dan akhirnya menjadi santapan pemangsa-pemangsa lainnya. Akan tetapi, jaringan informasi yang diciptakan pada lumba-lumba oleh Allah tidak terputus pada saat-saat seperti itu, dan membuat para anggota kawanan bertahan hidup dengan menjaga kepaduan kelompok.
Allah mewahyukan hal berikut ini dalam salah satu ayat Al Qur'an:
وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ
"Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang." (QS Asy Syu'araa 26:9)
Teknologi Capung
Manusia
telah mencoba berbagai macam cara untuk dapat terbang. Sejak pesawat
terbang pertama dibuat kira-kira seratus tahun yang lalu, ribuan model
pesawat udara yang berbeda telah dirancang. Ilmuwan yang tak terhitung
jumlahnya telah mencoba membuat mesin terbang yang lebih baik sampai
akhirnya mereka mampu membuat mesin terbang terkini dengan disainnya
yang mengagumkan.
Lebih Hebat dari Helikopter
Terbang
adalah keahlian yang hebat, tapi kegunaannya tergantung pada sejauh
mana ia dapat dikendalikan. Sebenarnya, untuk dapat melayang pada posisi
tetap di udara atau mendarat di tempat yang diinginkan adalah sama
pentingnya dengan kemampuan terbang itu sendiri. Untuk itulah, manusia
merancang pesawat terbang dengan kemampuan manuver yang tinggi, yaitu
helikopter. Helikopter mampu melayang di udara pada posisi tetap dan
lepas landas secara tegak lurus. Karena keuntungan militer inilah,
berbagai negara telah menyediakan dana dalam jumlah tak terbatas untuk
pengembangan helikopter. Akan tetapi, penelitian terkini telah menemukan
fakta yang sangat mencengangkan. Teknologi penerbangan helikopter
modern ternyata sangat tertinggal jauh dibanding dengan seekor makhluk
mungil yang mampu terbang. Makhluk ini adalah capung.
Sistem
penerbangan capung adalah sebuah keajaiban disain dengan teknologi
terbang yang mengalahkan semua mesin buatan manusia. Dengan alasan
inilah, disain model terakhir helikopter Sikorsky yang terkenal di
dunia, dibuat menggunakan disain capung sebagai model. Dalam proyek ini,
perusahaan IBM membantu mendisain Sikorsky dengan memuat gambar-gambar
capung dalam komputer khusus.
Setelah itu, dengan mengambil
contoh capung, ribuan ilustrasi dibuat dalam komputer. Kemudian, dengan
mencontoh teknologi terbang capung, dibuatlah model helikopter Sikorsky.
Singkatnya,
tubuh seekor serangga kecil memiliki disain lebih unggul dari rancangan
manusia. Teknologi penerbangan capung dan disain sayapnya mengemukakan
suatu fakta bahwa makhluk kecil ini memperlihatkan kepada kita disain
menakjubkan pada ciptaan Allah. Capung memiliki dua pasang sayap yang
ditempatkan secara diagonal pada tubuhnya, ini memungkinkannya melakukan
manuver sangat cepat.
Capung dapat mencapai kecepatan lima puluh
kilometer per jam dalam waktu sangat singkat, hal yang sungguh luar
biasa bagi seekor serangga. Seorang atlit olimpiade dalam perlombaan
lari seratus meter, hanya mampu berlari tiga puluh sembilan kilometer
per jam.
Giroskop Alami pada Capung
Ada
satu persyaratan lagi bagi penerbangan yang baik. Penerbangan sangatlah
berbahaya jika tidak didukung oleh sistem penglihatan yang baik. Untuk
itulah, pesawat terbang dan helicopter modern memiliki sistem visual
canggih. Capung juga memiliki sistem visual teramat canggih: ia memiliki
mata mikro berjumlah keseluruhan tiga puluh ribu buah, dan setiap mata
mengarah ke titik yang berbeda. Semua informasi dari mata-mata mikro ini
diteruskan ke otak capung, yang kemudian mengolahnya seperti komputer.
Dengan sistem ini, capung memiliki kemampuan melihat yang luar biasa.
Kemampuan
manuver capung lebih unggul dari yang dimiliki helikopter. Misalnya,
dengan satu manuver cepat di menit terakhir, capung berhasil
menyelamatkan diri dari truk yang datang dari arah berlawanan.
Bahkan
capung mampu meloloskan diri dari dua bahaya, yakni ketika ia harus
menghindar dari menabrak kaca depan mobil yang sedang melaju ke arahnya
dan harus lolos dari burung yang memburunya. Ia berhasil menyelamatkan
diri dengan satu manuver cerdas.
Satu permasalahan yang dihadapi
pilot, yang seringkali harus melakukan manuver, adalah bahwa setelah
suatu manuver, pilot mengalami kesulitan dalam menentukan posisi pesawat
relatif terhadap permukaan bumi. Jika pilot kebingungan menentukan
posisi bagian atas dan bawah pesawat setelah melakukan manuver, maka
pesawat ini dapat mengalami kecelakaan. Para teknisi telah mengembangkan
suatu alat untuk mengatasi hal ini, yakni giroskop. Alat ini menunjukan
pilot pada garis horisontal yang menandakan posisi horison. Pilot
membandingkan garis horisontal ini dengan horison sesungguhnya, dan
dengan demikian ia dapat menentukan posisi pesawat dengan cepat. Selama
jutaan tahun, capung telah memakai perlengkapan yang mirip dengan yang
dikembangkan oleh para teknisi ini. Di depan mata capung terdapat garis
horisontal maya pada posisi tetap. Tak menjadi masalah, pada sudut
berapa pun ia terbang, ia selalu memposisikan kepalanya sejajar dengan
garis horisontal ini.
Ketika posisi tubuh capung berubah selama
penerbangan, rambut-rambut di antara badan dan kepalanya menjadi
terangsang. Sel-sel saraf pada akar rambut ini mengirimkan informasi ke
otot-otot terbang capung tentang posisinya di udara. Hal ini
memungkinkan otot-otot tersebut secara otomatis mengatur jumlah dan
kecepatan gerak sayap. Dengan demikian, dalam manuver paling sulit
sekalipun, capung tidak pernah kehilangan arah atau kendali. Sistem ini
sungguh merupakan suatu keajaiban teknik.
Disini, manusia yang
berakal akan berpikir. Capung sendiri tidak mengetahui akan sistem luar
biasa yang ia miliki. Lalu, siapakah yang meletakan pada tubuh serangga
ini sistem penerbangan yang sedemikian kompleks, yang bahkan para
insinyur ahli telah menggunakannya sebagai model? Siapakah yang
melengkapi serangga ini dengan sayap sempurna, motor yang menggerakkan
sayap dan sistem penglihatan yang prima? Siapakah Pencipta disain yang
luar biasa ini?
Capung: Diciptakan Sudah Sempurna dan Lengkap
Teori
evolusi Darwin, yang mencoba menjelaskan kehidupan dengan peristiwa
kebetulan, tak mampu berbicara ketika dihadapkan dengan
pertanyaan-pertanyaan ini. Mustahil bahwa sistem dalam tubuh capung
dapat terbentuk melalui evolusi, yakni pembentukan tahap demi tahap
secara kebetulan. Hal ini dikarenakan bahwa agar suatu makhluk hidup
dapat hidup, semua sistem ini harus ada pada saat yang bersamaan dan
telah lengkap. Capung paling pertama di dunia juga pasti muncul dengan
mekanisme yang sama mengagumkannya dengan yang dimiliki capung zaman
sekarang. Hal ini telah dibuktikan oleh catatan fosil tentang sejarah
alam. Catatan fosil menunjukan bahwa capung-capung muncul di bumi pada
saat bersamaan secara serentak. Fosil capung tertua yang diketahui ini
berusia tiga ratus dua puluh juta tahun. Pada lapisan-lapisan fosil
periode lebih awal, tidak dijumpai sesuatu pun yang menyerupai seekor
capung. Tambahan lagi, sejak pertama kali capung muncul, catatan fosil
menunjukan bahwa ia tidak mengalami evolusi.
Fosil capung tertua
benar-benar sama dengan capung-capung yang hidup sekarang. Antara fosil
berusia seratus empat puluh juta tahun dengan capung masa kini di
sebelahnya tidak ada perbedaan sama sekali. Kenyataan ini sekali lagi
membuktikan kekeliruan teori evolusi sekaligus menunjukan dengan
sebenarnya bagaimana capung dan semua makhluk hidup di dunia ini muncul
menjadi ada. Adalah Allah, Tuhan seluruh alam, yang menciptakan semua
makhluk hidup, dan masing-masing dari mereka adalah bukti
keberadaan-Nya. Di samping Allah, tak ada kekuatan lain yang mampu
menciptakan seekor lalat sekali pun. Fakta ini dinyatakan oleh Allah
dalam Alquran:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ
مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ
لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ
الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ
وَالْمَطْلُوبُ
Artinya : "Hai manusia, telah dibuat
perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya
segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan
seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat
itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya
kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah
(pulalah) yang disembah." (QS Al-Hajj : 73)
Nyamuk Penghisap Darah?
Dalam
Alqur'an, Allah seringkali menyeru manusia untuk mempelajari alam dan
menyaksikan "ayat-ayat" yang ada padanya. Semua makhluk hidup dan tak
hidup di jagat raya ini dipenuhi "ayat" yang menunjukkan bahwa alam
semesta seisinya telah diciptakan. Di samping itu alam ini adalah
pencerminan dari ke-Mahakuasaan, Ilmu dan Kreasi Penciptanya. Adalah
wajib bagi manusia untuk memahami ayat-ayat ini melalui akalnya,
sehingga ia pun pada akhirnya menjadi hamba yang tunduk patuh di hadapan
Allah.
Kendatipun semua makhluk hidup adalah ayat Allah, uniknya
ada sejumlah binatang yang secara khusus disebut dalam Alqur'an. Satu
diantaranya adalah nyamuk:
إِنَّ اللَّهَ
لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا
فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ
وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا
مَثَلًا يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا وَمَا يُضِلُّ
بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ
"Sesungguhnya Allah tiada segan
membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu.
Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu
benar dari Rabb mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah
maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?" Dengan perumpamaan itu
banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula)
banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan
Allah kecuali orang-orang yang fasik." (QS. Al-Baqarah, 2:26).
Daftar Isi
1. Pemakan madu bunga
2. Perubahan warna
3. Hidup sebagai larva
4. Saat meninggalkan kepompong
1. Pemakan madu bunga
2. Perubahan warna
3. Hidup sebagai larva
4. Saat meninggalkan kepompong
Mungkin
banyak di antara kita yang menganggap nyamuk sebagai serangga yang
biasa saja, atau bahkan menjengkelkan karena suka mengganggu orang
tidur. Akan tetapi pernyataan: "Sesungguhnya Allah tiada segan membuat
perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu" semestinya
mendorong kita untuk memikirkan keajaiban binatang yang satu ini.
Anggapan
banyak orang bahwa nyamuk adalah penghisap dan pemakan darah tidaklah
sepenuhnya benar. Hanya nyamuk betina yang menghisap darah dan bukan
yang jantan. Di samping itu, nyamuk betina menghisap darah bukan untuk
kebutuhan makan mereka. Sebab baik nyamuk jantan maupun betina, keduanya
hidup dengan memakan "nectar", yakni cairan manis yang disekresikan
oleh bunga tanaman (sari madu bunga). Satu-satunya alasan mengapa nyamuk
betina, dan bukan jantan, menghisap darah adalah karena darah
mengandung protein yang dibutuhkan untuk perkembangan dan pertumbuhan
telur nyamuk. Dengan kata lain, nyamuk betina menghisap darah untuk
mempertahankan kelangsungan hidup spesiesnya.
Proses
perkembangan nyamuk merupakan peristiwa yang paling menakjubkan. Di
bawah ini uraian singkat tentang metamorfosis nyamuk dimulai dari larva
mungil melalui sejumlah fase perkembangan yang berbeda hingga pada
akhirnya menjadi nyamuk dewasa.
Nyamuk betina menaruh telurnya,
yang diberi makan berupa darah agar dapat tumbuh dan berkembang, pada
dedaunan lembab atau kolam-kolam yang tak berair di musim panas atau
gugur. Sebelumnya, nyamuk betina ini menjelajahi wilayah yang ada dengan
sangat teliti menggunakan reseptornya yang sangat peka yang terletak
pada perutnya. Setelah menemukan tempat yang cocok, nyamuk mulai
meletakkan telur-telurnya. Telur yang panjangnya kurang dari 1 mm ini
diletakkan secara teratur hingga membentuk sebuah barisan teratur.
Beberapa spesies nyamuk meletakkan telur-telurnya sedemikian hingga
berbentuk seperti sebuah sampan. Beberapa koloni telur ini ada yang
terdiri dari 300 buah telur.
Telur-telur yang berwarna putih ini
kemudian berubah warna menjadi semakin gelap, dan dalam beberapa jam
menjadi hitam legam. Warna gelap ini berfungsi untuk melindungi
telur-telur tersebut agar tidak terlihat oleh serangga maupun burung
pemangsa. Sejumlah larva-larva yang lain juga berubah warna,
menyesuaikan dengan warna tempat di mana mereka berada, hal ini
berfungsi sebagai kamuflase agar tidak mudah terlihat oleh pemangsa.
Larva-larva
ini berubah warna melalui berbagai proses kimia yang terjadi pada
tubuhnya. Tidak diragukan lagi bahwa telur, larva maupun nyamuk betina
bukanlah yang menciptakan sendiri ataupun mengendalikan berbagai proses
kimia yang mengakibatkan perubahan warna tersebut seiring dengan
perjalanan metamorfosis nyamuk. Mustahil pula jika sistem yang kompleks
ini terjadi dengan sendirinya. Kesimpulannya adalah nyamuk telah
diciptakan secara lengkap beserta dengan sistem perkembangbiakannya
sejak pertama kali ia ada. Dan Pencipta yang Maha Sempurna ini adalah
Allah.
Ketika
periode inkubasi telur telah berlalu, para larva lalu keluar dari
telur-telur mereka dalam waktu yang hampir bersamaan. Larva (jentik
nyamuk) yang makan terus-menerus ini tumbuh sangat cepat hingga pada
akhirnya kulit pembungkus tubuhnya menjadi sangat ketat dan sempit. Hal
ini tidak memungkinkan tubuhnya untuk tumbuh membesar lagi. Ini pertanda
bahwa mereka harus mengganti kulit. Pada tahap ini, kulit yang keras
dan rapuh ini dengan mudah pecah dan mengelupas. Para larva tersebut
mengalami dua kali pergantian kulit sebelum menyelesaikan periode hidup
mereka sebagai larva.
Jentik nyamuk mendapatkan makanan dengan
cara yang menakjubkan. Mereka membuat pusaran air kecil dalam air dengan
menggunakan bagian ujung dari tubuh mereka yang ditumbuhi bulu sehingga
mirip kipas. Kisaran air tersebut menyebabkan bakteri dan
mikro-organisme lainnya tersedot dan masuk ke dalam mulut larva nyamuk.
Proses pernapasan jentik nyamuk, yang posisinya terbalik di bawah
permukaan air, terjadi melalui sebuah pipa udara yang mirip dengan
"snorkel" (pipa saluran pernapasan) yang biasa digunakan oleh para
penyelam. Tubuh jentik mengeluarkan cairan yang kental yang mampu
mencegah air untuk memasuki lubang tempat berlangsungnya pernapasan.
Sungguh, sistem pernapasan yang canggih ini tidak mungkin dibuat oleh
jentik itu sendiri. Ini tidak lain adalah bukti ke-Mahakuasaan Allah dan
kasih sayang-Nya pada makhluk yang mungil ini, agar dapat bernapas
dengan mudah.
Pada
tahap larva (jentik), terjadi pergantian kulit sekali lagi. Pada tahap
ini, larva tersebut berpindah menuju bagian akhir dari perkembangan
mereka yakni tahap kepompong (pupal stage). Ketika kulit kepompong
terasa sudah sempit dan ketat, ini pertanda bagi larva untuk keluar dari
kepompongnya.
Selama
masa perubahan terakhir ini, larva nyamuk menghadapi tantangan yang
membahayakan jiwanya, yakni masuknya air yang dapat menyumbat saluran
pernapasan. Hal ini dikarenakan lubang pernapasannya, yang dihubungkan
dengan pipa udara dan menyembul di atas permukaan air, akan segera
ditutup. Jadi sejak penutupan ini, dan seterusnya, pernapasan tidak lagi
melalui lubang tersebut, akan tetapi melalui dua pipa yang baru
terbentuk di bagian depan nyamuk
Kemunculan
nyamuk dari kepompong diawali dengan robeknya kulit kepompong di bagian
atas. Resiko terbesar pada tahap ini adalah masuknya air ke dalam
kepompong. Untungnya, bagian atas kepompong yang sobek tersebut dilapisi
oleh cairan kental khusus yang berfungsi melindungi kepala nyamuk yang
baru "lahir" ini dari bersinggungan dengan air. Masa-masa ini sangatlah
kritis. Sebab tiupan angin yang sangat lembut sekalipun dapat
berakibatkan kematian jika nyamuk muda tersebut jatuh ke dalam air.
Nyamuk muda ini harus keluar dari kepompongnya dan memanjat ke atas
permukaan air dengan kaki-kakinya sekedar menyentuh permukaan air.
Begitulah,
seringkali hati kita tertutupi dari memahami kebesaran Allah pada
makhluknya yang tampak kecil dan tak berarti. Kalau nyamuk yang kecil
ternyata menyimpan keajaiban ciptaan Allah yang begitu besar, bagaimana
dengan makhluk-Nya yang lebih besar dan lebih sering kita saksikan dalam
kehidupan sehari-hari? Wallaahu a'lam.